Search
Search Menu

Pdt. Samuel Benyamin Hakh, D.Th.

samuel hakhBiodata Singkat

Kepala Pusat Penjaminan Mutu.

Pengampu MK: Pengantar Perjanjian Baru, Hermeneutika Perjanjian Baru, Bahasa Yunani.

Email: s.hakh@sttjakarta.ac.id

Untuk biodata lengkap klik di sini.

 

KARYA ILMIAH

1. “Woman in the Geneology of Matthew”

Dalam Jurnal: Exchange: Journal of Missiological and Ecumenical, Vol. 43, No. 2, 2014; ISSN: 0166-2740. pp. 109-118

Abstraksi: The author of the gospel of Matthew has interpolated woman’s names in the genealogy of Jesus: Tamar, Rahab, Ruth, the wife of Uriah (Bathsheba) and Mary. He interpolated those woman’s names in order to convey to his community the image that Jesus has a genealogical relationship not only with Israel as the elected people of God but with all nations throughout the world. In other words, he endeavours to describe Jesus as the Saviour of all nations. This image was imparted by presenting the situation of his community as consisting not only of Jewish Christians but of non-Jews as well.

Kata-kata kunci: genealogy, Jesus, Matthew, mission, salvation, women

Lihat Artikel: Jurnal Exchange Vol. 43 No. 2, 2014

2. The Conscience According to Paul”

Dalam Jurnal: The American Journal of Biblical Theology Vol. 14, Issue 52, Desember 2013; ISSN: 1531-7919, Jack Carter Publisher (Jurnal Online)

Abstraksi: Each person’s conscience serves to control all the actions and decisions that we take. As a controller, the conscience shows which actions and decisions are right and wrong, which should be accepted and which should be rejected. The apostle Paul argues that the conscience of a person can lead the right path and enable that person to live a comfortable, peaceful and prosperous life. But conscience can be conquered by evil desires. Consequently, conscience can be blunt so it cannot distinguish between right and wrong, or good and evil. Interestingly, in due time conscience will testify before God concerning all of our actions. When the conscience is constantly renewed, with a clear conscience, people are able to accurately assess the actions they wish to do, good or bad, fair or unfair.

Kata-kata kunci: conscience, control, heart, Paul, witness

Lihat Artikel: http://www.biblicaltheology.com/Research/HakhSB01.pdf

3. “Status dan Peranan Perempuan dalam Masyarakat Yahudi dan Kristen menurut Alkitab”

Dalam Jurnal: Jurnal KRITIS, Vol. XX, No. 1, April – Juli 2008. ISSN: 0215-4765. Program Pascasarjana Universitas Kristen Satya Wacana. pp. 27-39.

Abstraksi: The discussion on the status and the role of women in our society has become a controversial topic. Some have the opinion that woman have to keep silence in public meeting and submit to their husbands. Sometimes this opinion is supported by cultural values in our society. But some have objection to this opinion and assert that men and woman have the same status. Also we can find the similar controversion about the status and role of women in Israelites’ society found in the Bible. In this paper, I will explore the Biblical passages related to the status and role of woman. Furthermore, I will give the specific attention to some controversial passages regarding the status of women in the old and the new testament. Finally, I will give my own opinion about this controversial topic from a theological point of view.

Kata-kata kunci: perempuan, penolong, kedudukan, peranan, pelayan, masyarakat, gereja, jemaat

Lihat Artikel: Jurnal Kritis Vol. XX No. 1 Apr – Jul 2008

4. “Silsilah Yesus Menurut Injil”

Dalam Jurnal: Jurnal Studia Philosophica et Theologica Vol. 9, No. 2, Oktober 2009; ISSN: 1412-0674. Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana, Malang. pp. 214-246.

Abstraksi: Genealogy is used as a tool in order to trace identity of someone, so that he or she can get an acknowledgement in the society. Because without the acknowledgement, the person can not be received in relation with others. When Matthew’s community face with crisis identity because they were rejected by Jews community, Matthew formed the genealogy of Jesus to declare their identity. The crisis identity was emerged because of their faith in Jesus as the Lord, and their savior. But, like the Jews community, they perform the Abraham tradition as well. Therefore, Matthew made up this genealogy to connect their tradition into the faith tradition of Abraham. The aim was to explain that Jesus, the son of Daud and Abraham, to whom they believed, was the heir of the salvation which be promised by God. Therefore, everyone who believes in Him, they get the salvation and grace of Abraham.

Kata-kata Kunci: silsilah, nenek moyang, keturunan, iman, komunitas, krisis

Lihat Artikel: Jurnal Studia Philosophica et Theologica Vol. 9 No. 2 Oktober 2009

5. “Pola Pendidikan Yesus dan dan Respons Para MuridNya: Suatu Kajian Teologis Pedagogis Menurut Injil-injil Sinoptik”

Dalam Jurnal: Jurnal ARASTAMAR, Vol. 4 No. 1, Januari 2013. ISSN: 2085-9627. Departemen Literatur dan Media STT Arastamar. pp. 19-36.

Abstraksi: Education as an activity that be performed regularly and systematically by someone to another person or by one generation in order to shift the supreme values to prepare a competent router generation to do their job in the future. To aware the values of the education, when Jesus began His service in Palestine, He educated his twelve disciples to continue His service in the society. The pattern of the education that Jesus gave to His disciples was not just theoretically but also practically. Even, he become a model or an example for His disciples. The benefit of Jesus education is that his disciples can continue His service when He ascend to heaven.

Lihat Artikel:  Jurnal Arastamar Vol. 4 No. 1 Januari 2013

6. “Kekerasan Mengatasnamakan Agama: Suatu Tinjauan Etis Alkitabiah dari Sudut Perjanjian Baru”

Dalam Jurnal: Jurnal SOLA EXPERIENTIA, Vol. 1, No. 1, April 2013. ISSN: 2337-6813. Sekolah Tinggi Teologi Jakarta dan Perhimpunan Sekolah-sekolah Teologi di Indonesia. pp. 64-81.

Abstraksi: Semua agama mengajarkan kasih dan damai kepada para pengikutnya. Tetapi kita tidak bisa menyangkali bahwa ada banyak kekerasan terhadap sesama dengan mengatasnamakan agama. Tindakan-tindakan kekerasan itu terjadi karena penafsiran-penafsiran yang tidak konprehensif terhadap beberapa ayat suci yang menarik perhatian para pemeluk agama. Lalu, ayat-ayat itu dipakai sebagai pembenaran terhadap aksi kekerasan mereka. Tetapi Yesus menentang penggunaan kekerasan oleh para muridNya. Dalam perkataan lain, mereka harus menghadapi kekerasan dengan kasih. Sikap yang sama diikuti oleh para muridNya dan penulis-penulis Perjanjian Baru. Mereka menasihati jemaat agar membalas kekerasan dengan berbuat kasih dan member berkat.

Kata-kata Kunci: agama, kekerasan, kasih, masyarakat, zelot, Makabi, hokum, ius talionis, penganiayaan, bara api

Lihat Artikel: Jurnal Sola Experientia Vol. 1 No. 1 April 2013

7. “Pendidikan Agama Kristen bagi Anak dalam Keluarga menurut Perjanjian Baru”

Dalam Jurnal: Jurnal MATHETEUO, Vol. 1, Edisi 3, Oktober 2013. ISSN: 2252-3626. Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Kupang. pp. 1-18.

Abstraksi: Pendidikan merupakan suatu aktivitas yang sangat penting di dalam keluarga-keluarga bangsa Israel, karena pendidikan itu diamanatkan oleh Tuhan dalam Alkitab. Maksud dari pendidikan itu, supaya anak-anak Israel memahami dan meyakini perbuatan besar Allah dalam perjalanan sejarah umat Israel sehingga mereka memiliki iman yang teguh kepada Yahweh Allah Israel itu. Oleh sebab itu, keluarga-keluarga di dalam masyarakat bangsa Israel wajib mendidik anak-anak mereka sejak kecil. Ada bermacam-macam metode pendidikan yang dipakai, antara lain, metode berceritera, metode bermain peran, metode Tanya jawab, dsbnya. Dengan metode-metode ini, anak diharapkan dimampukan untuk menyerap pendidikan nilai yang diberikan kepadanya.

Kata-kata Kunci: anak-anak, iman, Israel, keluarga, pendidikan

Lihat Artikel: Jurnal Matheteuo Vol. I Ed. 3 Oktober 2013

8. “Perjanjian Baru: Sejarah, Pengantar dan Pokok Teologisnya”

Dalam Buku: Bina Media Informasi, Agustus 2010.ISBN: 978-979-1169-65-3.

Abstraksi: Alkitab, khususnya Perjanjian Baru tidaklah mudah bisa dipahami, sebab para penulis Alkitab menyajikan tulisan-tulisannya dalam berbagai bentuk sastra, antara lain: sastra hikmat, perumpamaan, puisi, surat, apokaliptik, dsbnya. Oleh sebab itu, dibutuhkan catatan-catatan pengantar untuk memahami latar belakang social, politik dan budaya serta gagasan teologis dari setiap tulisan, khususnya dalam Perjanjian Baru. Dengan memahami latar belakang dan gagasan teologis dari setiap tulisan Perjanjian Baru, memudahkan setiap pembaca untuk mengaplikasikan makna dari gagasan-gagasan teologis itu dalam kehidupan sehari-hari umat, sehingga bisa menjadi panduan atau penuntun dalam berkarya dan melayani.

Kata-kata Kunci: gereja, Injil, Yesus, sejarah, surat, teologis.

Lihat Cover: Buku – Perjanjian Baru – Sejarah, Pengantar dan Pokok-pokok Teologisnya – Agustus 2010

9. “Peranan Nous dan Suneidesis dalam Pengambilan Keputusan dan Pemberantasan Korupsi”

Dalam: Makalah Penelitian Ilmiah Ditjen Bimas Kristen Kementerian Agama RI

Abstraksi: Setiap hari manusia dihadapkan dengan pengambilan keputusan, baik bersifat informal dalam keluarga, maupun bersifat formal dalam lingkup pekerjaan, maupun dalam lingkungan masyarakat. Dalam rangka pengambilan keputusan itu, akal budi (nous) dan hati nurani (suneidesis) memiliki peran yang penting dalam memberikan pertimbangan-pertimbangan. Hasil dari pertimbangan itu sangat ditentukan oleh, berbagai factor, antara lain, tekanan dari luar orang yang bersangkutan maupun dorongan hati nuraninya sendiri. Tekanan dari luar bisa bersifat positif tetapi juga bisa juga bersifat negatif. Dorngan-dorongan itu bisa mempengaruhi akal budi dan hati nurani dalam pengambilan keputusan. Oleh sebab itu, akal budi dan hati nurani perlu selalu dibaharui agar sungguh-sungguh bebas dari berbagai pengaruh negatif dari luar dirinya. Dengan demikian akal budi yang sehat dan hati nurani yang bersih akan bisa menghasilkan keputusan yang benar dan adil. Sebaliknya akal budi yang sakit dan hati nurani yang rusak akan menghasilkan keputusan yang tidak memihak pada keadilan dan kebenaran.

Kata-kata Kunci: hakim, hukum, keputusan, korupsi, norma, nous, suneidesis

Lihat Artikel: Makalah Penelitian Mandiri – Peranan Nous dan Suneidesis dalam Pengambilan Keputusan dan Pemberantasan Korupsi

10. “Pembenaran oleh Iman Menurut Paulus dalam Pemahaman Protestan”

Disampaikan pada: Seminar Tahun Paulus, Lembaga Alkitab Indonesia

Lihat Artikel: Makalah Seminar Tahun Paulus LAI

11. “Hikmat Menurut Paulus”

Disampaikan pada: Simposium Nasional V ISBI 2010.

Lihat Artikel: Makalah Simposium Nasional V ISBI 2010 – Perkembangan Tradisi Hikmat dalam Alkitab

12. Persoalan Status Sebagai Anak-anak Abraham dalam Surat Galatia

Dalam Jurnal: Jurnal Gema Teologika, Vol. 1, No. 1, April 2016. ISSN: 2502-7743. Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana. pp. 64-81.

Abstraksi: Dalam Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia, salah satu pokok perdebatan teologis sosiologis yang mencuat ke permukaan adalah status sebagai anak-anak Abraham melalui sunat. Sebab menurut kelompok orang Kristen Yahudi yang datang ke Galatia, orang Kristen non-Yahudi wajib disunat dan melaksanakan hukum Taurat, jika mereka ingin beroleh selamat. Sebab keselamatan hanya diberikan kepada orang-orang yang menjadi anak-anak Abraham secara penuh.  Di pihak lain, Paulus menolak kewajiban itu. Menurut Paulus, oleh iman di dalam Kristus, anak Abraham itu, orang Kristen di Galatia telah beroleh status sebagai anak-anak Abraham dan mewarisi janji berkat Allah itu, yakni keselamatan. Dalam artikel ini saya berargumentasi bahwa perdebatan itu terjadi karena satu pihak, kelompok Yahudi itu berpegang teguh kepada tradisi sunat karena tradisi itu telah diberlakukan sejak Abraham dan diyakini sebagai jalan keselamatan, sementara Paulus menekankan pada iman serta taat kepada keputusan sidang di Yerusalem bahwa sunat tidak diwajibkan bagi orang non-Yahudi.

Kata-kata Kunci: Abraham, sunat, iman, Injil, anugerah, pembenaran, Taurat, keturunan, anak-anak Abraham, status.

Lihat Artikel: SBH – Jurnal Gema Teologi April 2016

Lihat Nilai Peer Review: Nilai-peer-review-jurnal-gema-teologi

12. Persoalan Status Sebagai Anak-anak Abraham dalam Surat Galatia

Dalam Jurnal: Jurnal Gema Teologika, Vol. 1, No. 1, April 2016. ISSN: 2502-7743. Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana. pp. 64-81.

Abstraksi: Dalam Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia, salah satu pokok perdebatan teologis sosiologis yang mencuat ke permukaan adalah status sebagai anak-anak Abraham melalui sunat. Sebab menurut kelompok orang Kristen Yahudi yang datang ke Galatia, orang Kristen non-Yahudi wajib disunat dan melaksanakan hukum Taurat, jika mereka ingin beroleh selamat. Sebab keselamatan hanya diberikan kepada orang-orang yang menjadi anak-anak Abraham secara penuh.  Di pihak lain, Paulus menolak kewajiban itu. Menurut Paulus, oleh iman di dalam Kristus, anak Abraham itu, orang Kristen di Galatia telah beroleh status sebagai anak-anak Abraham dan mewarisi janji berkat Allah itu, yakni keselamatan. Dalam artikel ini saya berargumentasi bahwa perdebatan itu terjadi karena satu pihak, kelompok Yahudi itu berpegang teguh kepada tradisi sunat karena tradisi itu telah diberlakukan sejak Abraham dan diyakini sebagai jalan keselamatan, sementara Paulus menekankan pada iman serta taat kepada keputusan sidang di Yerusalem bahwa sunat tidak diwajibkan bagi orang non-Yahudi.

Kata-kata Kunci: Abraham, sunat, iman, Injil, anugerah, pembenaran, Taurat, keturunan, anak-anak Abraham, status.

Lihat Artikel: SBH – Jurnal Gema Teologi April 2016

Lihat Nilai Peer Review: Nilai-peer-review-jurnal-gema-teologi

13. Kuduslah Kamu Sebab Aku Kudus (1 Petrus 1:16)

Dalam Jurnal:  Jurnal SOLA EXPERIENTIA, Vol. 2, No. 2, Oktober 2014, ISSN: 2337-6813, Sekolah Tinggi Teologi Jakarta dan Perhimpunan Sekolah-sekolah Teologi di Indonesia, Hal. 124-143.
Abstraksi: Jemaat, yang disapa dalam surat 1 Petrus, adalah satu jemaat yang hidupnya terasing dan teraniaya. Ketika mereka menjadi Kristen, mereka dianggap sebagai “orang asing”, sebab kekristenan masih asing bagi masyarakat yang pada umumnya kafir. Apalagi kebanyakan anggota jemaat berasal dari golongan bawah. Itulah sebabnya mereka menjadi sasaran penganiayaan dari masyarakat sekitar. Walau anggota jemaat itu hidup dalam keadaan yang sulit, penulis surat 1 Petrus menasihati anggota jemaat agar taat kepada pemerintah dan meyakinkan jemaat supaya mereka tabah dalam menghadapi penganiayaan itu dan memelihara hidup yang kudus, sebab Allah, yang telah memanggil jemaat itu adalah kudus.

Kata-kata Kunci: kudus, dosa, orang asing, tabah dalam penderitaan, anak-anak yang taat, pendatang dan perantau, pengharapan

Lihat Artikel: Jurnal-sola-experientia-vol-2-no-2-oktober-2014

Lihat Nilai Peer Review: Nilai-peer-review-jurnal-sola-experientia

14. Menimbang Lambang Penunggang Kuda Putih dalam Wahyu 6:1-2

Dalam Jurnal: Jurnal Forum Biblika, No. 28 – 2015, ISSN: 1410-7007, Lembaga Alkitab Indonesia,          Hal. 56-65.

Abstraksi: Kitab Wahyu adalah salah satu kitab yang ditulis untuk menyampaikan firman Allah dengan memakai simbol-simbol yang disampaikan melalui penglihatan-penglihatan, yang tidak mudah dimengerti oleh semua orang. Maka simbol-simbol itu perlu ditafsirkan agar bisa dipahami oleh pembaca pada umumnya. Salah satu simbol itu adalah ”kuda putih” yang terdapat dalam kitab Wahyu pasal 6:2, yang melambangkan upaya gereja untuk memberitakan Injil kebenaran dan sukacita kepada semua orang. Kuda putih ini dibedakan dari kuda-kuda yang lainnya yaitu kuda merah, yang melambangkan peperangan, kuda hitam yang melambangkan bencana kelaparan, dan kuda kuning yang melambangkan maut atau kematian.  Melalui penglihatan ini,  Yohanes, yang sedang berada di pulau Patmos pada waktu itu, menyampaikan kepada jemaat-jemaat yang disapanya, termasuk seluruh jemaat pada masa kini  bahwa gereja telah dipanggil dan diutus ke dalam dunia untuk memberitakan Injil dan menjadi berkat bagi sesama umat manusia. Itulah tugas gereja yang harus dilakukan agar setiap orang yang percaya kepada Injil itu, beroleh selamat.

Kata-kata Kunci: Injil, jemaat, Kuda putih, kuda merah, kuda hitam, kuda kuning, kebenaran, simbol, 

Lihat Artikel: Jurnal-forum-biblika-no-28-2015-1

Lihat Nilai Peer Review: Nilai-peer-review-jurnal-forum-biblika

15. Akal Budi dan Hati Nurani

Dalam Buku: Penerbit: Bina Media Informasi, Agustus 2014, ISBN: 978-979-1169-99-8

Abstraksi: Nous dan Suneidesis (akal budi dan hari nurani)  adalah pemberian Allah dalam hati manusia yang berfungsi sebagai pengontrol untuk membedakan  manakah kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada  Allah, dan  yang sempurna. Fungsi kontrol nous dan suneidesis itu meliputi, tutur kata, sikap dan tindakan, termasuk setiap keputusan yang manusia lakukan baik di lembaga-lembaga peradilan, maupun dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat. Namun, nous dan suneidesis tidak ilahi. Oleh sebab itu, nous dan suneidesis dapat dikuasai oleh kekuatan-kekuatan atau kuasa-kuasa dari luar dirinya sehingga fungsi kontrolnya tidak lagi terlaksana dengan baik. Akibatnya  manusia yang memiliki nous dan suneidesis yang demikian, bisa menyimpang dari kebenaran dan keadilan dalam berkata-kata, bersikap dan bertindak. Oleh sebab itu, nous dan suneidesis setiap orang perlu mendapatkan pendidikan praktis melalui upaya menanamkan nilai-nlai luhur mengenai kejujuran, kebenaran, dan keadilan, serta nilai-nilai etika dan nilai-nilai spiritual, seak dini agar bisa memberikan kontrol bagi manusia dalam kehidupannya setiap hari. Lebih dari itu, sebagai orang yang beriman, perlu memberi diri untuk secara terus menerus dibaharui oleh Roh Kudus melalui penyerahan diri kepada Tuhan. Oleh pembaharuan yang dilakukan secara terus menerus itu, nous dan suneidesis manusia dapat secara terang dan jelas memberikan kontrol dan arahan bagi manusia dalam kehidupannya setia hari.

Kata-kata Kunci: Keadilan, kebenaran, kejujuran, kontrol, nous, pendidikan, suneidesis

Lihat Artikel: Buku-akal-budi-dan-hati-nurani-2-1

Lihat Nilai Peer Review: Nilai-peer-review-buku-akal-budi-dan-hati-nurani

Leave a Comment

Required fields are marked *.