Search
Search Menu

Pdt. Robert Patannang Borrong, Ph.D

rpborrongBiodata Singkat:

Direktur Pusat Studi Etika STT Jakarta.

Pengampu MK: Etika Kristen. Mata kuliah: Pancasila, Pendidikan Kewaganegaraan, Etika Kristen I dan II, Teologi Kontekstual.

Email: r.borrong@sttjakarta.ac.id

Profil Akademis:

Google Scholar

SINTA

Untuk biodata lengkap klik di sini.

 

KARYA ILMIAH

1. “Diakonia dan Pastoral Sosial Calvin: Relevansinya bagi Gereja-gereja di Indonesia”

Dalam Buku: Calvinis Aktual, 2010. Jakarta: KPT GKI SW Jabar. ISBN: 978-979-16484-3-1, pp: 179-185.

Lihat Artikel Lengkap: Buku Calvinis Aktual – 2010

 

2. Buku: Panorama Etika Praktis

Buku: ISBN: 978-979-9103-76-5, UPI STT Jakarta, 2011

Abstraksi: Kehidupan modern diwarnai berbagai isu yang mengancam moralitas manusia: kehancuran lingkungan hidup, korupsi, dampak negatif media, globalisasi, kemiskinan dan politik semu. Buku ini mengajak pembaca memperhatikan betapa pentingnya etika (etosphere) sebagai pemandu dan pengarah kehidupan guna memulihkan hubungan manusia dengan sesamanya manusia yang penuh damai dan dengan lingkungan hidupnya yang harmonis, antara lain melalui pendidikan, termasuk pendidikan politik yang peduli pada aspek ketuhanan (theosphere) sebagai sumber utama kedamaian dan keharmonisan hidup.

Kata-kata kunci: Moralitas, Lingkungan Hidup, Bencana Alam, Korupsi, Hak Asasi Manusia, Globalisasi, Pendidikan Non Diskriminatif, Demokratisasi, Ecosphere, Etosphere, Teosphere

Lihat Artikel: Panorama Etika Praktis

 

3. Pendidikan Non-Diskriminatif

Dalam Jurnal: Jurnal Pendidikan Dasar Vol. 3 No. 4, Juni 2011; ISSN: 2086-7433. Universitas Negeri Jakarta. pp. 89.

Abstraksi: Pendidikan diskriminatif terjadi ketika manusia menganggap pendidikan sebagai komoditas. Dalam hal itu, orang kaya lebih mudah mengakses pendidikan yang mereka sukai, semntara orang miskin tidak memiliki peluang yang sama. Pemerintah Indonesia diharapkan membuat regulasi yang menghindarkan terjadinya pendidikan diskriminatif untuk menciptakan pendidikan non-doskriminatif.

Kata-kata kunci: Pendidikan, Diskriminasi, Confucius, Kasih, Keadilan, Kebajikan, Dewey, Pendidikan, Nilai, Karakter, Budi Pekerti

Lihat Artikel: Jurnal Pendidikan Dasar Vol. 3-4, No. 3-4, Jun-Des 2011

 

4. Dimensi Etika Dalam Pemanfaatan dan Pengembangan Teknologi

Dalam Buku: Jonathan Parapak: Pembelajar dan Pelayan di Sekitar Teknologi dan Pendidikan, 2012. Jakarta: UPH Press. ISBN: 978-979-9103-76-5, pp: 111-131.

Abstraksi: Teknologi merupakan prestasi manusia yang mempunyai tujuan luhur melayani kesejahteraan dan martabat manusia dan Tuhan sang Pencipta. Maka dalam memanfaatkan dan mengembangkan teknologi, dimensi etika sebagai alat evaluasi dan koreksi kemajuan teknologi merupakan suatu hal yang mutlak dalam setiap upaya memanfaatkan dan mengembangkan teknologi. Dimensi moral ini justru sangat perlu ketika disadari bahwa manusia kadangkala tidak mampu mengendalikan teknologi.

Kata-kata kunci: Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Etika, Otonom, Netral, Bebas Nilai, Ambivalen, Immoral, Manfaat, Dampak, Mitra

Lihat Artikel: Jonathan Parapak Pembelajar dan Pelayan di Sekitar Teknologi dan Pendidikan

 

5. Creation Spirituality: An Indonesian Torajan Perspective

Dalam Jurnal: Jurnal Teologi Sola Experientia Vol. 1 No. 2, Oktober 2013; ISSN: 2337-6813. Sekolah Tinggi Teologi Jakarta dan PERSETIA Jakarta. pp. 150-166.

Abstraksi: Artikel ini menggunakan metode baru untuk memahami spiritualitas dari perspektif kebijaksanaan lokal, yang diambil dari perspektif kebudayaan Toraja. Artikel ini bertujuan untuk menyediakan metode belajar baru yang mengenali kontribusi kebijaksanaan lokal bagi kehidupan universal umat manusia. Pertama, kita akan mencari garis penyambung dari pemikiran mistik tentang hidup orang Toraja. Dimulai dengan mitos dan legenda, lalu diteruskan ke upacara dan ritual, kita akan melihat bagaimana hal-hal ini menyatu dengan baik dalam kehidupan orang Toraja. Spiritualitas lokal orang Toraja terletak dalam kedalamannya dalam menghadapi semua kehidupan, manusia dan spesies lainnya. Budaya Toraja menghormati bukan hanya realitas fisik dari hidup, tapi juga kehidupan spiritual yang “tidak nyata”. Sikap menghargai kehidupan ini menghasilkan hubungan yang konstruktif dan baik antara manusia dan mahluk hidup lainnya.

Kata-kata kunci: spiritualitas, spiritualitas ciptaan, mitos, legenda, upacara, ritual, toraja, budaya tradisional, dongeng, Tongkonan, Puya

Lihat Artikel: Jurnal Sola Experientia Vol. 1 No. 2 Oktober 2013

 

6. “Theologia Viatorum: Upaya Memaknai Teologi Kontekstual sebagai Proses Berteologi”

Dalam Buku: Ziarah Beragam Rasa, 2014. Jakarta: UPI STT Jakarta. ISBN: 978-602-71379-0-5, pp: 105-113.

Lihat Artikel: Buku Ziarah Beragam Rasa

7. Signifikansi Kode Etik Pendeta

Dalam Jurnal: Jurnal Gema Teologi Vol. 39 No. 1, April 2015; ISSN: 0853-4500. Fak. Teologi Universitas Kristen Duta Wacana. pp. 73-96.

Abstraksi: Kode etik pendeta bukanlah sebentuk aturan atau hukum yang harus ditaati pedneta melainkan sejumlah kaidah yang menjadi pedoman pendeta untuk melaksanakan tugasnya secara optimal. Kode etik itu diperlukan justru supaya pendeta dapat menjalankan tugas-tugas pelayanannya dengan baik tanpa tekanan, tetapi juga tanpa merasa bebas dari tanggung jawab. Signifikansi kode etik pendeta adalah menolong pendeta melaksanakan pengajarannya tentang Firman Tuhan seiring-sejalan dengan kehidupan pribadi, keluarga, dan tugas-tugas pelayanannya.

Kata-kata kunci: Pendeta, kode etik, pelayanan, gembala, signifikansi, moral, integritas, rohani

Lihat Artikel: Jurnal Gema Teologi Vol. 39 No. 1 April 2015

8. Makna Etika Bagi Konseling Pastoral

Dalam Buku: Seputar Pelayanan Pastoral, Panitia Emeritasi Pdt. Daniel Susanto (ed.). 2016. Jakarta: Majelis Jemaat GKI Menteng Jakarta. ISBN: 978-602-73623-1-4, pp: 59-71.

Abstraksi: Mengapa Etika penting bagi Konseling Pastoral? Karena konseling pastoral berurusan dengan manusia sebagai subyeknya. Manusia adalah makhluk ciptaan yang mulia, citra Allah sendiri (Kejadian 1:26-28). Oleh karena itu manusia menjadi moral standing (makhluk bermoral) dan yang dalam segala aspek kehidupannya harus diperlakukan sebagai makhluk bermartabat. Etika sebagai pengetahuan akan yang baik dan yang buruk bermakna bagi konseling pastoral supaya baik pendeta maupun umat dalam berelasi dan berinteraksi selalu memperhatikan kaidah-kaidah kemanusiaan seperti menghargai dan menghormati sehingga tercipta hubungan yang benar-benar manusiawi.

Dalam proses konseling pastoral, pengetahuan dan integritas moral pendeta dapat berguna menganjurkan solusi yang benar, baik dan tepat bagi jemaat yang sedang mengalami atau menghadapi pergumulan hidup. pendeta selaku pihak yang menjadi representasi gereja dalam melaksanakan konseling pastoral. Maka makna etika bagi konseling pastoral berpusat pada pendeta (pastor centered) sebab pendeta menjadi konselor oleh karena ia menerima panggilan menjadi representasi gereja dan representasi Tuhan untuk membagi kebaikan kepada umat, khususnya kepada konseli.

Kata-kata kunci: Etika, Konseling Pastoral, Pendeta, Konseli, Integritas, Moral

Lihat Artikel: RPB – Buku Seputar Pelayanan Pastoral (1) (1)

9. Pernikahan Lintas Iman dalam Konteks Masyarakat Majemuk

Dalam Jurnal: Voice of Wesley, Vol. 1 No. 1, September 2017, ISSN: 2580-7900, Penerbit: STT Wesley Methodist Indonesia

Abstraksi: Meninjau persoalan perkawinan campur beda agama yang diistilahkan perkawinan lintas iman, dalam konteks Negara majemuk , terutama dari sudut pandang etika/moral yang dikaitkan dengan sudut pandang hukum dan teologi. Dengan sengaja menggunakan istilah perkawinan lintas iman karena iman adalah sesuatu yang mencerminkan hubungan seseorang dengan Tuhan, apapun agamanya, sedangkan agama adalah institusi yang memfasilitasi iman. Orang yang mau menikah dengan orang yang berbeda agama tetapi suka mempertahankan agama masing-masing seharusnya dilandaskan pada keyakinan iman dan bukan sekedar agama.

Kata-kata Kunci: perkawinan campur, iman, HAM, masyarakat majemuk, negara

Lihat Artikel: Jurnal Voice of Wesley Vol. 1 September 2017-Resize

 

 

10. Kepemimpinan dalam Gereja sebagai Penatalayanan

Dalam Jurnal: Voice of Wesley, Vol. 2 No. 2, Mei 2019, ISSN: 2580-7900, Penerbit: STT Wesley Methodist Indonesia

Abstraksi: 

Kepemimpinan dalam gereja bukanlah pelaksanaan kekuasaan atau otoritas manusia, melainkan suatu kegiatan pelayanan. Pelayanan yang ditujukan kepada Yesus Kristus, Pemilik dan Kepala Gereja. Gereja ada karena panggilan untuk mewartakan kerajaan Allah di dunia. Oleh sebab itu kepemimpinan tidak terutama berkenaan dengan penataan organisasi gereja, tetapi berkenaan dengan penata layanan gereja kepada Tuhan dan bagi dunia. Kepemimpinan gereja tidak bertujuan membuat organisasi gereja dengan baik, tetapi menata organisasi gereja dengan baik supaya pelayanan dan kesaksian kepada dunia berjalan dengan baik.

Pemimpin dalam gereja adalah pelayan yang bekerja dengan sukacita dan sukarela karena adanya panggilan dari Tuhan bagi mereka untuk mengambil bagian dalam karya Yesus Kristus di dunia oleh dan melalui pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib. Oleh sebab kepemimpinan adalah panggilan, maka kepemimpinan dijalankan dengan sukarela dan sukacita. Itulah hakekat kepemimpinan sebagai pelayanan gereja. Menjadi pemimpin yang melayani berarti menjadi pemimpin yang memberikan dirinya untuk mengabdi kepada Tuhan, bukan kepada manusia.

Kata-kata Kunci: pemimpin, pelayan, panggilan, organisasi, ekklesia, kesaksian, persekutuan, wibawa, motivator, fasilitator.

Lihat Artikel: Jurnal Voice of Wesley Vol. 2 No. 2 Mei 2019 – Resize

 

11. Pengelolaan Lingkungan Berwawasan Kemanusiaan

Dalam Buku: Jelajah Sejarah Meraup Makna. 2019. Salatiga: Satya Wacana University Press. ISBN: 978-602-5881-29-9, pp: 151-167.

Abstraksi: Pembangunan berwawasan lingkungan sudah lama dicanangkan di Indonesia, yaitu sejak tahun 1970-an, khususnya sesudah Konferensi Internasional mengenai Lingkungan Hidup di Stockholm, Swedia tahun 1972 yang membentuk badan dengan nama United nations Environmental Program (Sumarwoto, 1991:5). Kemudian dengan timbulnya berbagai masalah lingkungan maka Perserikatan Bangsa Bangsa membentuk komisi khusus untuk menelaah masalah lingkungan hidup, yaitu Komisi Dunia untuk Lingkungan dan Pembangunan (World Commission on Environment and Development) dalam pertemuan di Nairobi tahun 1982 yang diketuai oleh Gro Harlem Bruntland. Dalam laporan komisi tahun 1987 telah diangkat slogan pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Pembangunan dipahami sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang, untuk mencapai tujuan itu disyaratkan dua hal yaitu: pertama, meningkatkan potensi produksi yang ramah lingkungan hidup; kedua, menjamin terciptanya pembangunan yang merata dan adil bagi semua orang (Saleh, 2005:15). Kedua syarat ini bermakna pembangunan berwawasan lingkungan dan berwawasan kemanusiaan.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, banyak kasus dampak buruk pembangunan, khususnya pembangunan industri dan pertanian di Indonesia, yang mencemari lingkungan dan berdampak langsung pada kehidupan manusia (Aditjondro: iv-xxxii) dapat dikategorikan sebagai pembangunan tidak berwawasan lingkungan dan tidak berwawasan kemanusiaan. Sebab dampak dampak dari pembangunan itu tidak hanya merusak lingkungan hidup, tetapi manusia misalnya menderita sakit penyakit jangka pendek dan jangka panjang, bahkan bisa langsung maupun tidak langsung menyebabkan kematian.

Makalah ini melihat sisi lain dari pengelolaan lingkungan, yaitu kepentingan manusia. Pembangunan bersetujuan untuk menyejahterakan manusia tanpa kecuali. Oleh sebab itu, manusialah yang pertama-tama seharusnya mendapatkan manfaat untuk pengelolaan lingkungan. Pertanyaan yang paling mendasar dari pernyataan ini ialah kelompok manusia manakah yang mendapatkan manfaat pengelolaan lingkungan di suatu wilayah? Pertanyaan ini tidak mengarah pada konflik antarkelompok manusia. Kalau demikian, persoalan utama pada masalah pengelolaan lingkungan yang berwawasan kemanusiaan adalah keadilan dalam memperoleh manfaat atas pengelolaan lingkungan tersebut.

Kata-kata kunci: lingkungan, lingkungan hidup, kemanusiaan, pembangunan, pengelolaan

Lihat Artikel: Bab Buku Jelajah Sejarah Meraup Makna – 2019 – Resize

Leave a Comment

Required fields are marked *.