Search
Search Menu

Pdt. Prof. Jan S. Aritonang, Ph.D

aritonang-fotoBiodata Singkat:

Koordinator Pusat Dokumentasi Sejarah Gereja-gereja di Indonesia.
Pengampu MK: Sejarah Gereja Asia, Sejarah Perjumpaan Kristen & Islam, Sejarah Gereja di Indonesia I dan II.
Email: j.s.aritonang@sttjakarta.ac.id

 

Untuk biodata lengkap klik di sini.

 

KARYA ILMIAH

1. Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia (BPK Gunung Mulia, 2004),

2. Gereja di Abad 21 – 50 Tahun PGI (Litbang PGI, 2000),

3. Tahun Yobel Itu Haruslah Kudus Bagimu! – 50 Tahun BPK Gunung Mulia (BPK Gunung Mulia, 1996),

4. Berbagai Aliran di dalam dan di sekitar Gereja (BPK Gunung Mulia, 1995),

5. Mission Schools in Batak land – Indonesia. (Leiden: E.J. Brill, 1994),

6. Apa dan Bagaimana Gereja? (BPK Gunung Mulia, 1989),

7. Sejarah Pendidikan Kristen di Tanah Batak (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988).

8. Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja

Keterangan Buku: 2016. Jakarta: BPK Gunung Mulia. ISBN: 978-602-73623-1-4, pp: 59-71.

Abstraksi: Sejak reformasi pada abad ke-16, gereja-gereja Protestan mengenal dan terbagi ke dalam berbagai aliran. Kepelbagaian itu semakin subur dan kompleks di sepanjang sejarahnya hingga abad ke-21 karena kemajemukan konteks kehadiran gereja dan banyaknya faktor teologis maupun bukan teologis yang ikut berperan.

Di Indonesia saja, setelah gereja-gereja Protestan hadir lebih dari 400 tahun, ada sekitar 350 organisasi gereja plus 400-an organisasi gerejawi yang bernaung di bawah nama yayasan. Masing-masing menganut satu atau lebih aliran tertentu yang sebagian besar berasal dari Eropa maupun Amerika. Kenyataan ini memperhadapkan setiap gereja pada pertanyaan dan pergumulan mendasar: sudah sejauh mana ia menjadi bagian integral dan autentik dari sejarah dan keberadaan bangsanya?

Buku ini tidak hendak menjawab pertanyaan itu, tetapi dengan menggunakan metode fenomenologis-historis mendeskripsikan seluk-beluk 17 aliran yang ada di dalam dan di sekitar gereja-gereja Kristen Protestan sedunia, sejauh sudah hadir di Indonesia, mulai dari yang paling dekat dengan ajaran para reformator, sampai yang sangat jauh (namun sebagian besar masih mengaku Kristen). Dengan deskripsi ini diharapkan setiap gereja atau kelompok keagamaan yang mengaku sebagai gereja makin memahami dirinya dan terdorong untuk menjawab pertanyaan di atas.

Kata-kata kunci: Lutheran, Calvinis, Anglican, Mennonit, Baptis, Metodis, Pentakostal, Kharismatik, Injili, Bala Keselamatan, Adventis, Saksi-saksi Jehuwa, Mormon, Christian Science, Scientology, Gerakan Zaman Baru, Satanisme

Lihat Artikel: JSA – Buku Berbagai Aliran Di Dalam dan Di Sekitar Gereja

9. GOD’S MISSION TO THE MARGINALIZED IN INDONESIA

Dalam Jurnal: Mission Sparks (Academic Journal of Asia Region); No. 1 – Juni 2016, ISSN: 2527-9890, Penerbit: United Evangelical Mission

Abstract: In Indonesia there are many people being marginalized. This paper or contribution only discusses three categories, i.e. labor, disabled and LGBTIQ. The portrait of these three categories includes government’s policy, laws and regulations concerning them. After describing each category and telling what the government, churches, and Christian organizations said and do upon them, the paper ends with theological reflection that emphasizes God’s mission through diakonia of the church to the marginalized. This closing remarks and reflection also quotes WCC’s statements in some documents as well as UEM’s documents as were presented in UEM’s conference in Stellenbosch, South Africa, in November 2014, under a theme, “Inclusive Communities and the Church”.

Keywords: marginalized, labor, disabled, LGBTIQ, God’s mission, theology of disability, diakonia, WCC, LWF, UEM.

Lihat Artikel: Jurnal Mission Spark Edisi Juni 2016 – God’s Mission to the Marginalized in Indonesia (1)

10.  INJILI TIDAK MESTI KONSERVATIFPerkembangan Upaya Berteologi Kalangan Injili dalam Beberapa Dasawarsa Terakhir

Artikel dalam buku: Berteologi bagi Sesama (Festschrift untuk Pdt. Lotnatigor Sihombing M.Th.), Agustus 2016, ISBN: 978-602-74922-0-2, Penerbit: STT Amanat agung

 Abstrak Artikel:  Sejarah gerakan dan aliran Injili (Evangelical) sudah dimulai sejak akhir abad ke-18, namun mencapai puncak perkembangannya pada abad ke-20. Bahkan pada medio abad ke-20 muncul gerakan/aliran neo evangelical. Namun kepada aliran ini – yang lama maupun yang baru – dilekatkan juga istilah conservative, sehingga dikenallah idiom Conservative-Evangelical atau Injili-Konservatif. Aliran Injili – kendati dekat dengan Fundamentalisme – tidak identik; ada perbedaan mendasar di antara keduanya.

Karena istilah Conservative-Evangelical mengandung konotasi negatif, maka dalam beberapa dasawarsa terakhir terjadi transisi dan munculnya beberapa gerakan atau varian baru di kalangan Injili, terutama di AS, serta sejumlah teolog baru. Di dalam varian baru itu tercakup a.l. Evangelical Left, Evangelicals for Social Action (ESA), dan Younger Evang-elicals. Ketiga varian inilah – yang muncul sejak 1960-an – yang dikaji dalam tulisan ini.

Tulisan ini diakhiri dengan harapan dan dorongan agar para teolog Injili di Indonesia untuk terus mengembangkan teologi, mengingat bahwa teologi adalah sebuah ilmu, kendati prinsip-prinsip dan metodologinya tidak sama dengan ilmu-ilmu lain.

Kata-kata kunci (keywords): Injili, konservatif, Evangelical Left, Evangelicals for Social Action, Younger Evangelicals, religious right, Evangelical Right.

Lihat Artikel: Buku Berteologi Bagi Sesama – Injili Tidak Mesti Konservatif (1)

11. KONTEKSTUALISASI INJIL DI TANAH PASUNDAN

Dalam Buku: Percikan-percikan Sejarah Gereja Kristen Jemaat Depok. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017. ISBN: 978-602-231-396-0

Abstrak Artikel: Upaya pekabaran Injil di Tanah Pasudan, dengan memperhatikan konteksi sosial-budaya, politik, dan agama, sudah dimulai sejak paruh abad ke-19. Kadar upaya kontekstualisasi itu tidak sama di kalangan para penginjil. Lagipula kontekstualisasi – baik sebagai istilah maupun sebagai wawasan – belum dikenal pada awal penginjilan di Tanah Pasundan. Setelah Gereja Kristen Pasundan (GKP) mandiri tahun 1934, upaya itu meningkat seiring dengan semakin kompleksnya konteks yang dihadapinya. Tulisan ini pertama-tama akan menggambarkan upaya kontekstualisasi pada masa zending atau prakemandirian GKP. Setelah itu akan dicoba dipaparkan berbagai upaya setelah GKP mandiri, terutama ketika berhadapan dengan konteks masyarakat dan budaya Sunda yang didominasi Islam. Pada bagian terakhir akan disampaikan catatan dan saran untuk ditimbang oleh GKP, termasuk jemaat Depok, untuk melanjutkan dan meningkatkan upaya kontekstualisasi itu, sambil mengemukakan beberapa model kontekstualisasi.

Kata-kata kunci (keywords): kontekstualisasi, Pasundan, Penginjil, zending.

Lihat Artikel: Kontekstualisasi Injil di Tanah Pasundan

12. SPIRITUALITAS MARTIN LUTHER”

Dalam Buku: Spiritualitas dari Berbagai Tradisi. Jogyakarta: Kanisius, 2017. ISBN: 978-979-21-5452-8

Abstrak Artikel: Dalam kajian atas Martin Luther, termasuk legacy-nya, tidak banyak tulisan yang memuat kajian atas spiritualitas yang Luther perlihatkan melalui kiprah dan tulisan-tulisannya. Mungkin topik ini dianggap kurang penting dibanding dengan ajaran, eklesiologi, etika dan moral, dan peribadahan. Kemungkinan lain, spiritualitas dipahami dipahami dan diungkapkan dengan berbagai istilah lain, misalnya semangat, kesalehan, dan kehidupan rohani. Kalau kemudian ada pengamat atau penulis menggunakan istilah “Spiritualitas Luther” atau menerapkan istilah spiritualitas pada Luther, itu agaknya adalah pemahaman atau penafsiran mereka atas apa yang Luther katakan dan lakukan.

 

Acuan utama artikel ini adalah buku yang disunting Philip D.W. Krey & Peter D.S. Krey, Luther’s Spirituality (2007), yang memuat terjemahan dari sejumlah tulisan Luther, dan artikel Jane E. Strohl, Luther’s Spiritual Journey (2003). Sebelum membahas Spiritualitas Luther, lebih dulu dikemukakan secara singkat apa yang dimaksud dengan spiritualitas, terutama Spiritualitas Kristiani. Untuk itu diacu beberapa tulisan, terutama disertasi Simon Rachmadi, Reformed Spirituality in Java (2017), yang mengikhtisarkan sejumlah tulian mengenai spiritualitas.

 

Dengan segala keterbatasan itu, kiranya artikel ini-bersama artikel-artikel lain dalam buku ini-mendorong kajian yang lebih mendalam dan lengkap atas spiritualitas pada umumnya dan spiritualitas para reformator pada khususnya, ketika kita merayakan 500 tahun Reformasi. Lebih dari itu, kiranya buku ini membangkitkan minat banyak orang-semoga tidak hanya yang Kristen-untuk menghayati dan mempraktikkan spiritualitas dalam kehidupan nyata sehari-hari; jadi tidak hanya mengkajinya secara teoretis sebagai bagian dari sebuah ilmu yang bernama teologi.

Kata-kata kunci (keywords): spiritualitas, reformasi, Martin Luther.

Lihat Artikel: Spiritualitas Martin Luther

Leave a Comment

Required fields are marked *.