Search
Search Menu

Karya Ilmiah Dosen Biasa

Pdt. Agustinus Setiawidi, MA., Th.D.

Pdt. Agustinus Setiawidi, MA., Th.D.

Bambang Subandrijo, Ph.D.

Bambang Subandrijo, Ph.D.

Pdt. Binsar Jonathan Pakpahan, Ph.D

Pdt. Binsar Jonathan Pakpahan, Ph.D

Pdt. Ester Pudjo Widiasih, Ph.D.

Pdt. Ester Pudjo Widiasih, Ph.D.

Pdt. Prof. Jan S. Aritonang, Ph.D

Pdt. Prof. Jan S. Aritonang, Ph.D

Pdt. Joas Adiprasetya, Th.D.

Pdt. Joas Adiprasetya, Th.D.

Pdt. Justitia Vox Dei Hattu, Th.D

Pdt. Justitia Vox Dei Hattu, Th.D

Pdt. Robert Patannang Borrong, Ph.D.

Pdt. Robert Patannang Borrong, Ph.D.

Pdt. Prof. Samuel Benyamin Hakh, D.Th.

Pdt. Prof. Samuel Benyamin Hakh, D.Th.

Pdt. Yonky Karman, Ph.D.

Pdt. Yonky Karman, Ph.D.

4 Comments Write a comment

  1. Yth. Bpk Pdt Yonky Karman

    Saya membaca Kompas kemarin tgl 25 Juni 2015

    Saya berminat membaca buku Desertasi Bapak dengan judul : Aspek-aspek Komunikasi dengan arwah dalam I Samuel 28 :3-25 sehubungan dengan penampakan arwah Samuel.
    Dimana saya bisa memerolehnya ?

    Terima kasih. Tuhan memberkati.

    Reply

    • Yth. Pak Tumbur ,
      Saya merasa terpanggil untuk memberikan sumbang pendapat atas topik yang Bapak ajukan kepada Baopak Pdt. Yonky Karman (Aspek-aspek Komunikasi dengan arwah dalam I Samuel 28 :3-25 sehubungan dengan penampakan arwah Samuel.). Pendapat ini saya rangkum dari Alkitab, sebuah buku yang kita umat Kristiani yakini sebagai buku yang berisi Firman Allah (2Tim 3:16; 2Ptr 1:20, 21). Silahkan Bapak baca tulisan yang saya rangkum ini, dan cheklah ayat-ayat yang tersedia di dalamnya untuk membuktikan kebenarannya.

      Meskipun Allah membuat hukum-hukum yang dengan tegas melarang spiritisme, dari waktu ke waktu ada cenayang di negeri Israel. Mungkin mereka adalah orang-orang asing yang datang ke negeri itu atau beberapa orang yang diselamatkan dari pembinasaan oleh orang Israel. Raja Saul menyingkirkan mereka dari negeri itu semasa pemerintahannya, tetapi tampaknya pada akhir masa pemerintahannya para cenayang mulai beroperasi lagi. Saul memperlihatkan seberapa jauh ia telah berpaling dari Allah sewaktu ia pergi berkonsultasi kepada ”wanita yang ahli dalam memanggil roh di En-dor”.—1Sam 28:3, 7-10.

      Kunjungan Raja Saul kepada seorang cenayang. Ketika Saul pergi kepada cenayang, roh Yehuwa telah disingkirkan dari sang raja untuk beberapa waktu, dan Allah malah tidak mau menjawab permohonannya melalui mimpi ataupun Urim (yang digunakan oleh imam besar) atau melalui para nabi. (1Sam 28:6) Allah sama sekali tidak mau berurusan lagi dengan dia; dan Samuel, nabi Allah, tidak bertemu dengan Saul untuk waktu yang lama, bahkan sebelum Daud diurapi menjadi raja. Maka tidak masuk akal untuk berpikir bahwa Samuel, seandainya masih hidup, kini mau datang untuk menasihati Saul. Allah juga pasti tidak akan membiarkan Samuel, yang tidak Ia utus kepada Saul sebelum kematiannya, kembali dari antara orang-orang mati dan berbicara kepada Saul.—1Sam 15:35.

      Yehuwa sama sekali tidak akan berkenan atau bekerja sama dengan tindakan Saul; hal ini terlihat dari pernyataan-Nya belakangan melalui Yesaya, ”Jika mereka mengatakan kepada kamu sekalian, ’Bertanyalah kepada para cenayang atau kepada orang-orang yang mempunyai roh peramal yang menciap-ciap dan mengeluarkan ucapan dengan nada rendah’, bukankah kepada Allahnya suatu bangsa harus bertanya? Haruskah orang bertanya kepada orang mati demi kepentingan orang yang hidup? Kepada hukum dan kepada pengesahan!”—Yes 8:19, 20.

      Oleh karena itu, sewaktu disebutkan, ”Ketika wanita itu melihat ’Samuel’, ia berteriak dengan sekeras-kerasnya,” catatan itu jelas sedang menceritakan kejadian tersebut sebagaimana dilihat oleh sang cenayang, yang dikelabui oleh roh yang menyamar sebagai Samuel. (1Sam 28:12) Sehubungan dengan Saul sendiri, prinsip yang dinyatakan oleh rasul Paulus berlaku, ”Karena mereka tidak berkenan mengakui Allah berdasarkan pengetahuan yang saksama, Allah menyerahkan mereka kepada keadaan mental yang tercela, untuk melakukan perkara-perkara yang tidak patut . . . Walaupun mereka mengetahui benar ketetapan yang adil-benar dari Allah, bahwa orang-orang yang mempraktekkan perkara-perkara demikian patut mati, mereka tidak hanya terus melakukannya tetapi juga setuju dengan orang-orang yang mempraktekkannya.”—Rm 1:28-32.

      Commentary on the Old Testament, karya C. F. Keil dan F. Delitzsch (1973, Jil. II, First Samuel, hlm. 265), merujuk kepada Septuaginta Yunani di 1 Tawarikh 10:13, yang menambahkan kata-kata ”dan nabi Samuel menjawabnya”. (Bagster) Commentary mendukung pandangan yang tersirat dari kata-kata yang tidak terilham dalam Septuaginta, tetapi menambahkan, ”Meskipun demikian, para bapak, reformis, dan teolog Kristen masa awal, dengan sedikit sekali perkecualian, menganggap bahwa Samuel tidak benar-benar muncul, tetapi hanya terlihat dalam khayalan saja. Menurut penjelasan yang diberikan oleh Efraem Sirus, apa yang tampak sebagai sosok Samuel diperlihatkan kepada mata Saul melalui ilmu demonik. Luther dan Calvin mempunyai pendapat yang sama, dan para teolog Protestan masa awal sependapat dengan mereka dan menganggap bahwa yang kelihatan hanyalah suatu bayang-bayang demonik, hantu, atau bayang-bayang yang menyerupai Samuel, dan menganggap bahwa pernyataan Samuel hanyalah penyingkapan demonik yang disampaikan seizin Allah dan mengandung kebenaran yang dicampur dengan kepalsuan.”

      Dalam sebuah catatan kaki (First Samuel, hlm. 265, 266), Commentary ini mengatakan, ”Maka Luther mengatakan . . . ’Ditampilkannya Samuel oleh seorang peramal atau tukang sihir, di 1 Sam. xxviii. 11, 12, pasti hanyalah bayang-bayang iblis; tidak saja karena Tulisan-Tulisan Kudus menyatakan bahwa hal itu dilakukan oleh seorang wanita yang dipenuhi iblis-iblis (sebab siapa yang akan percaya bahwa jiwa orang-orang beriman, yang ada di tangan Allah, . . . berada di bawah kuasa si iblis, dan manusia biasa?), tetapi juga karena tindakan Saul dan wanita itu bertanya kepada orang mati jelas bertentangan dengan perintah Allah. Roh Kudus tidak dapat melakukan apa pun melawan hal ini sendirian, Ia juga tidak dapat membantu orang yang bertindak melawannya.’ Calvin juga menganggap bahwa yang kelihatan hanyalah suatu bayang-bayang . . . : ’Sudah pasti,’ katanya, ’bahwa bayang-bayang itu bukan Samuel yang sebenarnya, sebab Allah tidak akan pernah membiarkan para nabi-Nya ditundukkan oleh tenung yang demonik demikian. Karena di sini ada tukang sihir yang memanggil orang mati dari kuburan. Dapatkah kita membayangkan Allah menginginkan nabi-Nya mengalami keaiban demikian; seolah-olah si iblis berkuasa atas tubuh dan jiwa para santo yang ada dalam perlindungan-Nya? Jiwa para santo dikatakan beristirahat . . . pada Allah, menantikan kebangkitan mereka yang bahagia. Selain itu, bisakah kita percaya bahwa Samuel membawa jubahnya ke dalam kuburan? Karena semua alasan tersebut, tampaknya jelas bahwa yang kelihatan itu hanyalah suatu bayang-bayang, dan bahwa indra-indra wanita itu sendiri begitu dikelabui, sehingga ia mengira melihat Samuel, padahal sebenarnya bukan dia.’ Para teolog ortodoks masa awal, dengan alasan-alasan yang persis sama, juga meragukan bahwa Samuel yang sudah meninggal benar-benar tampil.”

      Reply

      • Terima kasih Bu Maria atas penjelasannya. Orang kesurupan dan ada rohaniawan dalam tanda petik bisa memanggil roh orang meninggal adalah bertentangan dengan Firman Tuhan.

        Reply

Leave a Comment

Required fields are marked *.